Menu
movers@abilitykwt.com

menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap mereka

Anak-anak yang telah menerima vaksinasi campak dan rubella pertama turun dari 95 persen pada 2019 menjadi 87 persen pada 2021. Jumlah anak-anak ‘dosis nol’ – atau yang tidak menerima satu dosis vaksin pun terhadap difteri pertusis dan tetanus (DPT) – naik signifikan dari 10 persen pada 2019 menjadi 26 persen selama periode yang sama. Hal ini menempatkan anak-anak pada risiko tertular berbagai penyakit yang dapat dicegah.

“Di wilayah WHO Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang menunjukkan peningkatan besar dalam jumlah anak tanpa dosis vaksinasi selama beberapa tahun terakhir,” kata Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr N. Paranietharan. “Kegiatan BIAN yang sedang berlangsung di Indonesia sangat terpuji, namun upaya tambahan yang signifikan diperlukan untuk mempercepat dan mengejar ketinggalan anak, dan mempertahankan cakupan imunisasi tingkat tinggi.”

Setelah COVID-19, dunia mengalami penurunan berkelanjutan terbesar dalam vaksinasi anak-anak dalam waktu sekitar 30 tahun. Secara global, pada tahun 2021 saja, 25 juta anak melewatkan bocoran slot gacor satu atau lebih dosis vaksin DPT melalui imunisasi rutin. Sebagian besar anak-anak ini tinggal di India, Nigeria, Indonesia, Ethiopia, dan Filipina.

Di akhir kampanye BIAN di Indonesia, UNICEF dan WHO menyerukan:

Melanjutkan upaya peningkatan imunisasi rutin di tingkat nasional dan daerah. Ini termasuk meluncurkan strategi untuk menargetkan anak-anak ‘nol-dosis’, mengatasi hambatan dalam pengambilan vaksin dan memantau serta mengevaluasi layanan imunisasi.
Dukungan dari pemerintah daerah – khususnya gubernur, bupati dan walikota – untuk membantu orang tua dan pengasuh memahami manfaat imunisasi dan mendorong mereka untuk mengunjungi posyandu atau klinik terdekat untuk memastikan anak mereka menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap mereka.
Kolaborasi antara otoritas kesehatan, organisasi berbasis agama, komunitas dan media massa untuk mencegah penyebaran misinformasi dan hoaks vaksin.

Transformasi Data Kesehatan untuk Aksi Tanggap Darurat
Aplikasi kajian cepat kesehatan membantu tenaga kesehatan untuk cepat mengidentifikasi kebutuhan kelompok paling rentan dalam tanggap darurat.

Sebagai salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia, Indonesia harus berpacu dengan waktu dalam upaya tanggap darurat. Tantangan dari sebuah populasi besar yang tersebar di berbagai medan yang sulit se-nusantara dan kurangnya informasi yang memadai dari lapangan kerap menimbulkan masalah dalam memberikan bantuan kepada mereka yang paling membutuhkan selama krisis.

Guna mempercepat upaya awal tanggap darurat, Pusat Krisis Kesehatan dari Kementerian Kesehatan telah bekerja sama dengan UNICEF dalam mengembangkan aplikasi kajian cepat kesehatan (Rapid Health Assessment atau RHA). Aplikasi digital yang menggantikan sistem berbasis kertas bertujuan untuk mengidentifikasi dan menanggapi kebutuhan kesehatan dari kelompok rentan selama tahap awal tanggap darurat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now